Pahlawan yang Dinanti dari Bonus Demografi

  • Share
Foto : Rian Fahardi.

UJARAN.OPINI – Siapa bilang pahlawan terlahir sebagai orang – orang hebat? Mereka menjadi pahlawan karena mereka bergulat melampaui keterbatasan – keterbatasan mereka untuk dapat memberikan yang terbaik bagi kehidupan orang banyak, semata – mata karena mereka mempunyai semangat pertanggungjawaban sejarah. Semangat itulah yang membuat pekikan takbir Bung Tomo menggerakkan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya. Semangat itu pula yang membuat pidato Bung Karno di Konferensi Asia – Afrika menggerakkan bangsa – bangsa Asia Afrika untuk merebut kemerdekaan dengan menggunakan tangan mereka sendiri.

Sangat yakin, dengan semangat itu bisa mengumpulkan serpihan potensi kita yang berserakan, bergulat melampaui keterbatasan, dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama dunia yang dapat memberikan kontribusi dalam perbaikan tatanan dunia yang sedang terseok – seok.

banner 336x280

Dulu, Soekarno melalui pidatonya saat kemerdekaan 17 Agustus 1963 dengan tegas mengatakan “Kita bangsa besar, kita bukan “bangsa tempe”, kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta – meminta apalagi jika bantuan – bantuan itu diembel – embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak. Tradisi Bangsa Indonesa tentunya bukan “tradisi tempe”. Kita semua tahu, Indonesia pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia tenggara , pernah mengarungi lautan luas untuk berdagang sampai ke Arabia, Afrika, hingga ke negeri tiongkok.

Semua hal ini ditandai dengan salah satu bukti bahwa kesetiaan rakyat terhadap bangsanya sendiri sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah air, rakyat, bangsa, dan negara.

Menciptakan Pahlawan Melalui Bonus Demografi

Pahlawan masa kini bisa saja lahir dari rahim dan gagasan seorang pemuda melalui harapan dan optimisme kita percaya, melihat rentang waktu 2020 – 2035, di prediksi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dengan masa puncak di sekitar tahun 2030. Artinya, pada saat – saat itu jumlah masyarakat dengan usia produktif yaitu dengan kisaran umur 15 – 64 tahun jauh lebih banyak melebihi mereka yang termasuk dalam usia non-produktif ( anak – anak dan lansia ).

Baca Juga :  Ajakan Kadiv Humas Polri

Bisa dikatakan bahwa, bonus demografi adalah sebuah kondisi yang langka ketika para pemuda atau kaum muda lebih banyak daripada kaum tua, yang memiliki potensi besar akan lahirnya pahlawan – pahlawan masa kini dengan visi menciptakan sebuah inovasi baru untuk masyarkat dan menciptakan tatanan baru dengan semangat kepahlawanan.

Kaum muda akan menjadi tulang punggung yang menentukan nasib dan arah bangsa, Tahun 2020 menjadi awal bonus demografi yang terjadi, yang akan sangat menentukan perjalanan sebuah bangsa.
Dengan melimpahnya usia produktif ini bisa menjadi kabar baik bagi negeri, karena akan membantu laju pertumbuhan ekonomi. Kabar buruknya, jumlah usia yang produktif itu juga berpotensi meningkatkan jumpah pengangguran dan segudang permasalahannya.

Bonus demografi dapat memunculkan dua sisi: menjadi berkah dan rahmat atau menjadi bencana. Menjadi berkah dan rahmat jika benar – benar mampu mengelola sumer daya pemuda secara baik, cepat dan responsif menjawab tantangan zaman. Sehingga dapat melahirkan pahlawan – pahlawan baru dengan misi yang jelas. Sebaliknya, menjadi bencana jika pengelolaanya yang lambat, kebanyakan formalita dan seremoni hingga kurang relevan dan tidak mengakar ke masyarakat.

Bonus demografi yang telah dimulai ini hanya akan berdampak signifikan jika para pemudanya tumbuh dengan semangat yang terbaharui, serta memiliki kreativitas dan daya cipta yang tinggi dengan memperkuat analisis sosial sehingga bisa menjawab permasalahan bangsa ini. Bonus demografi hanya akan menjadi bonus di atas kertas belaka jika angkatan muda hari ini masih sibuk rebahan dan berkoar – koar tidak jelas di social media.

Bonus demografi bisa saja jadi bumerang untuk Indonesia jika kaum mudanya tidak memiliki kemampuan dan keahlian, juga tekad dan semangat yang memadai. Alih – alih memicu produktivitas bangsa, bonus demografi kemungkinan bisa melahirkan angkatan pengangguran yang tidak produktif dengan skala yang sangat besar.

Baca Juga :  Satlantas Polres Sinjai Sasar Kendaraan Warga

Oleh sebab itu, kaum muda saat ini berpotensi besar menjadi sosok pahlawan bagi negara, bangsa, komunitas, bahkan keuarganya masing – masing. Sekurang – kurangnya, menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri.
Pahlawan disini bukan seseorang yang mengangkat senjata lalu teriak dengan lantang di garis depan menyeru perlawanan, tetapi seseorang yang memiliki tekad kuat gaungkan perubahan dengan menghadirkan nilai – nilai kepahlawanan dalam perjuangan masa lalu. Pahlawan masa lalu dan pahlawan masa kini sebenarnya tidak jauh berbeda, melainkan hanya soal zaman dan selisih waktu, Meskipun dengan tantangan zaman yang berbeda, hal itu dapat diatasi dengan tekad dan cinta yang mendalam terhadap bangsa dan negara.

Menakar Kesiapan Pemerintah dan Anak muda Menghadapi Bonus Demografi

Memasuki akhir 2020, persentase jumlah penduduk produktif mencapai 70 persen dan yang tidak produktif 30 persen. Persentase tentunya akan semakin ideal begitu memasuki masa puncak antara tahun 2028 – 2030. Setelah itu, persentase tersebut akan berubah dari persentase idealnya. Oleh sebab itulah, bonus demografi hanya akan terjadi sekali dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa. Jadi akan sangat disayangkan jika pemerintah tidak mengoptimalkan hal tersebut.

Jumlah penduduk usia produktif hingga 70 Persen pada saat puncak bonus demografi memang sangat menguntungkan dari sisi pembangunan. Tingginya jumlah usia produktif pastinya akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Tetapi, keuntungan bonus demografi tersebut dapat diperoleh dengan banyak catatan yang harus dipenuhi melalui persiapan lapangan kerja, pendidikan yang layak, serta pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai. Jika hal – hal tersebut tidak tersedia, akan muncul banyak persoalan. Sebut saja bonus demografi malah menjadi petaka bagi negara dengan meningkatnya pengangguran, meningkatnya angka kriminalitas, serta meletusnya konflik sosial.

Sekarang pertanyaan sederhananya, apakah Indonesia memang sudah siap menghadapi Bonus demografi?
Menurut Guru besar ekonomi kependudukan Universitas Indonesia Sri Moertiningsih Adioetomo, ada enam elemen yang harus disiapkan dan disinergikan agar Indonesia siap ketika memasuki masa windows of opportunity. Pertama, mencermati perubahan struktur penduduk. Kedua, menjaga kesehatan ibu dan anak, sejak ibu mengandung hingga anak berusia sekitar dua tahun. Ketiga, Investasi di bidang pendidikan dengan keahlian dan kompetensi, guna meningkatkan kualitas tenaga kerja.

Baca Juga :  Hari ini, Kasus Covid-19 di Sinjai Bertambah 5 Orang, Sembuh 2 Orang

Keempat, kebijakan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja. Kelima, good governance serta prosedur investasi yang sederhana. Terakhir, pertumbuhan ekonomi yang diindikasikan dengan jumlah produksi yang lebih besar daripada tingkat konsumsi.

Bisa kita lihat faktanya di bidang pendidikan. Pada tahun 2014, para pekerja di negeri ini ternyata persentase paling besar merupakan lulusan sekolah dasar yakni 47,1 persen. Diikuti lulusan SMA dan SMK sebanyak 25,4 persen, SMP sebesar 17,7 persen, serta diploma 2,6 persen. Sementara sarjana sebanyak 7,2 persen.
Dalam hal jumlah penduduk yang berpendidikan sarjana, Indonesia ternyata sangat jauh tertinggal dibading negeri jiran dan bahkan Korsel. Sebanyak 75 persen penduduk Malaysia berpendidikan sarjana, sedangkan Korsel hampir 90 persen. Adapun Indonesia, baru menargetkan memiliki 75 persen penduduk berpendidikan sarjana pada tahun 2051

Padahal menurut Direktur Eksekutif The United Nations Population Fund (UNFPA) Babatunde Osotimehin, kualitas penduduk menjadi kunci keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan puncak bonus demografi.

Hal ini menjadi penting bagi pemerintah untuk melayani angkatan muda yang menjadi instrumen penting dalam mewujudkan Indonesia yang kembali disegani oleh dunia. Pemrintah harus benar – benar membuka pintu selebar – lebarnya untuk menyiapkan anak – anak muda yang berkualitas sebelum memasuki puncak bonus demografi di tahun 2030. Sehingga Bonus demografi yang hanya terjadi sekali ini bisa menentukan perjalanan sebuah bangsa yang dipegang langsung oleh anak muda untuk memastikan nasib bangsa ini.

Penulis : Rian Fahardi, Mahasiswa Uin Syarif Hidayatulah Jakarta.

Facebook Comments

banner 120x600
  • Share