banner 1200x130

SMPN 1 Madapangga Bima Kembali Disorot Terkait Pungli dan Korupsi Dana BOS

  • Bagikan
banner 400x130

BIMA.UJARAN – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Madapangga Kabupaten Bima kembali disorot. Kali ini berkaitan dengan dugaan Pungutan Liar (Pungli) yang dilakukan pihak sekolah. Mulai dari uang pengadaan pakaian Batik senilai Rp.50 ribu per siswa, uang masker Rp.10 per siswa, dan juga uang wisuda Rp.155 ribu.

“Dulu pertama anak saya daftar di SMPN 1 Madapangga, pihak sekolah mengumpulkan uang untuk baju batik senilai Rp.50 ribu. Namun hingga anak saya lulus, baju batik tersebut tidak kunjung dibelikan. Selain itu, pada bulan Mei kemarin anak saya ditagih lagi uang senilai Rp.10 ribu untuk beli masker. Itu juga tidak dibelikan,” beber Nunung, salah satu orang tua siswa, pada media ini, Senin (7/9).

Ia tambahkan, selain uang batik dan uang masker, pihak sekolah kembali mengumpulkan uang untuk wisuda. Padahal menurut Nunung, para siswa secara Nasional tidak di izinkan untuk melaksanakan ujian. Hal ini dikarenakan oleh pandemi Covid-19 yang sedang melanda.

“Masa kumpulkan uang wisuda sementara musim Corona. Jangankan wisuda, ujian pun tidak diizinkan. Artinya ini bisa diindikasikan bahwa mereka lakukan itu hanya untuk meraup keuntungan, saja,” kesal Nunung.

Nunung juga berharap, pihak sekolah segera mengembalikan semua uang siswa yang dikumpulkan tersebut. Karena menurut nunung, itu semua cukup membebani para orang tua siswa. Sebab uang tersebut dikumpulkan para orang tua siswa dengan sangat susah. Lantaran harus bekerja banting tulang di bawah terik matahari baru mendapatakan sejumlah uang tersebut.

Sementara itu, Maman S.Pd., Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 1 Madapangga menjelaskan, bahwa wisuda para siswa tetap dilaksanakan. Mengingat sebagian uang yang dikumpulkan para siswa sudah dibelikan untuk keperluan wisuda. Mulai dari Toga dan baju wisuda.

“Wisuda para siswa akan tetap dilaksanakan. Bahkan sebagian keperluan untuk wisuda pun sudah kita beli. Seperti baju wisuda dan juga toga yang sudah kita serahkan ke para siswa,” jelas Maman.

Selain itu juga, dirinya membantah adanya pungutan uang untuk wisuda siswa. Melainkan uang tersebut ditabung sendiri oleh siswa. Sehingga uang tersebut mencapai jumlah yang dibutuhkan senilai Rp.155 ribu.

“Kegiatan wisuda pun bukan kami yang minta, tetapi diminta oleh Osis. Bahkan kami tidak pernah paksakan untuk melaksanakan wisuda. Oleh karena itu didesak siswa sendiri, jadi kami ikut bantu mereka,” jelas Maman.

Hal ini direspon oleh Persatuan Rakyat Anti Korupsi (PERANK) NTB. Sebagai aktifis sosial, mereka akan melaporkan ulah pihak sekolah tersebut ke Polda NTB.

“Kami mengindikasikan hal itu terjadi pungutan liar. Sebab itu semua diluar dari ketentuan yang ada,” ujar Riyan Syaputra, Ketua Umum PERANK NTB, Senin (7/9).

Selain itu, mereka juga mengancam akan melakukan demo besar-besaran di Depan Polda NTB dan Kejati NTB.

Lain hal, Kasek SMPN 1 Madapangga, diduga melakukan Korupsi pada bantuan dana BOS selama ia memimpin sekolah tersebut.

Maka dari itu, mereka mendesak kepada pihak terkait untuk melakukan audit investigasi pada SMPN I Madapangga atas dugaan skandal korupsi yang tengah ramai diperbincangkan.

Mendesak kepada Pihak kepolisian dan Kejaksaan untuk melakukan audit investigasi atas harta kekayaan yang dimiliki Kasek SMPN 1 madapangga. Karena dinilai tidak wajar dan diduga mengarah dari hasil korupsi selama ia memimpin sekolah tersebut.

Mendesak kepada Bupati Bima untuk mencopot dan mengganti Kasek tersebut dengan pejabat yang lebih baik. (Red/Pensa)

Facebook Comments

Baca Juga :  Ditemui LAKIN, Ketua DPRD Kota Makassar : Parlemen Jalanan
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *